Sparta
Akuntansi

Cara Menghitung HPP Perusahaan Dagang dan Contoh Soalnya

Cara menghitung HPP perusahaan dagang memakai rumus persediaan awal ditambah pembelian bersih dikurangi persediaan akhir, lengkap dengan contoh soal dan jawabannya.

Tim Sparta5 menit baca

Disusun dengan bantuan AI berdasarkan panduan editorial Sparta, lalu melewati pemeriksaan struktur, keunikan, dan konsistensi otomatis. Lihat metodologi editorial.

Bagian dari panduan Cara Membuat Laporan Keuangan: Panduan Lengkap untuk UKM

Cara menghitung HPP perusahaan dagang adalah dengan rumus persediaan awal ditambah pembelian bersih dikurangi persediaan akhir. Hasilnya menunjukkan berapa besar nilai barang yang benar-benar terjual dan menjadi beban dalam laba rugi periode berjalan, bukan sekadar nilai barang yang dibeli.

Rumus HPP perusahaan dagang

HPP (harga pokok penjualan) untuk perusahaan dagang, berbeda dengan perusahaan manufaktur, dihitung dari pergerakan persediaan barang jadi yang dibeli untuk dijual kembali, tanpa proses produksi. Rumusnya:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih - Persediaan Akhir

Pembelian bersih sendiri dihitung dari pembelian kotor ditambah biaya angkut pembelian, dikurangi retur pembelian dan potongan pembelian. Rumus lengkapnya menjadi HPP = Persediaan Awal + (Pembelian - Retur Pembelian - Potongan Pembelian + Biaya Angkut Pembelian) - Persediaan Akhir.

Menghitung pembelian bersih

Pembelian bersih mewakili nilai barang yang benar-benar menambah stok dagang setelah dikoreksi retur dan potongan. Biaya angkut pembelian (ongkos kirim dari supplier ke gudang Anda) ditambahkan karena ini bagian dari harga perolehan barang, sedangkan retur dan potongan mengurangi karena barang atau nilainya sudah kembali ke supplier.

Contoh: toko elektronik membeli barang dari supplier senilai Rp 180.000.000, membayar ongkos kirim Rp 3.000.000, meretur barang cacat senilai Rp 5.000.000, dan mendapat potongan tunai Rp 2.000.000 karena membayar lebih cepat. Pembelian bersihnya adalah Rp 180.000.000 + Rp 3.000.000 - Rp 5.000.000 - Rp 2.000.000 = Rp 176.000.000.

Menentukan persediaan akhir

Persediaan akhir adalah nilai barang yang masih tersisa di gudang pada akhir periode, dihitung dari hasil stok opname fisik dikalikan harga perolehan sesuai metode penilaian yang dipakai, FIFO atau rata-rata bergerak (moving average). Selisih antara catatan stok dan hasil opname fisik harus disesuaikan dulu lewat jurnal penyesuaian persediaan sebelum angka ini dipakai menghitung HPP, karena stok yang hilang atau rusak tidak boleh ikut dihitung sebagai persediaan akhir yang masih bernilai.

HPP perpetual vs periodik

Ada dua pendekatan mencatat HPP. Metode periodik menghitung HPP sekali di akhir periode memakai rumus di atas, cocok untuk toko kecil yang stok opname bulanan atau tahunan. Metode perpetual mencatat pengurangan persediaan dan penambahan HPP setiap kali ada transaksi penjualan, sehingga HPP dan sisa stok bisa dilihat kapan saja tanpa menunggu tutup buku.

Bisnis dengan ratusan SKU dan transaksi harian yang tinggi umumnya lebih cocok memakai perpetual karena bisa langsung tahu margin tiap transaksi, sementara metode periodik lebih sederhana tetapi menyembunyikan HPP sampai akhir bulan. Perbandingan lengkap dua pendekatan ini serta dampaknya ke laba rugi bertahap dibahas di laporan laba rugi.

Contoh perhitungan langkah demi langkah

CV Rejeki Distribusi mencatat data berikut untuk bulan September 2026: persediaan awal Rp 95.000.000, pembelian kotor Rp 210.000.000, biaya angkut pembelian Rp 4.000.000, retur pembelian Rp 6.000.000, potongan pembelian Rp 3.000.000, dan hasil stok opname akhir bulan menunjukkan persediaan akhir senilai Rp 88.000.000.

  1. Hitung pembelian bersih: Rp 210.000.000 + Rp 4.000.000 - Rp 6.000.000 - Rp 3.000.000 = Rp 205.000.000.
  2. Jumlahkan dengan persediaan awal: Rp 95.000.000 + Rp 205.000.000 = Rp 300.000.000. Ini disebut barang tersedia untuk dijual (cost of goods available for sale).
  3. Kurangi dengan persediaan akhir: Rp 300.000.000 - Rp 88.000.000 = Rp 212.000.000.

Jadi HPP CV Rejeki Distribusi untuk bulan September 2026 adalah Rp 212.000.000. Jika penjualan bulan itu tercatat Rp 260.000.000, laba kotornya adalah Rp 260.000.000 - Rp 212.000.000 = Rp 48.000.000, atau margin kotor sekitar 18,5 persen dari penjualan.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Memasukkan biaya operasional gudang seperti gaji staf gudang ke dalam HPP, padahal itu masuk beban operasional, bukan harga pokok barang.
  • Lupa mengoreksi persediaan akhir dengan hasil stok opname fisik, sehingga HPP dihitung dari angka catatan yang sudah menyimpang dari stok riil.
  • Tidak memisahkan retur pembelian dari retur penjualan, padahal keduanya punya efek berlawanan terhadap HPP.
  • Menghitung HPP total perusahaan padahal marginnya berbeda jauh antar kategori barang, sehingga keputusan harga jual jadi bias.

HPP per kategori barang, bukan hanya total perusahaan

Menghitung satu angka HPP untuk seluruh perusahaan memang wajib untuk laporan laba rugi, tetapi untuk keputusan bisnis sehari-hari, HPP per kategori atau per barang jauh lebih berguna. CV Rejeki Distribusi dari contoh di atas menjual tiga kategori barang: alat listrik, pipa, dan cat. Kalau HPP dan penjualan dipecah per kategori, mungkin terlihat kategori pipa punya margin kotor hanya 8 persen karena persaingan harga ketat, sementara kategori cat marginnya 25 persen. Tanpa pemecahan ini, manajer bisa saja terus menggenjot penjualan pipa yang sebenarnya nyaris tidak menguntungkan, sambil menganggap kinerja keseluruhan sudah bagus karena rata-ratanya masih positif.

Memecah HPP sampai level kategori atau bahkan per SKU membutuhkan sistem yang mencatat harga pokok tiap barang secara individual, bukan sekadar total pembelian dan penjualan bulanan. Ini salah satu alasan bisnis dengan ratusan SKU akhirnya beralih dari pembukuan manual ke sistem yang mendukung kartu stok per barang.

Dampak salah hitung HPP terhadap keputusan harga

HPP yang salah hitung merambat langsung ke keputusan harga jual. Kalau HPP dianggap lebih rendah dari sebenarnya, misalnya karena biaya angkut pembelian lupa dimasukkan, harga jual yang ditetapkan dengan target margin 20 persen sebenarnya hanya menghasilkan margin riil sekitar 17-18 persen tanpa disadari. Dikalikan volume penjualan bulanan yang besar, selisih kecil ini bisa berarti puluhan juta rupiah margin yang hilang tanpa terdeteksi selama berbulan-bulan. Cara menetapkan harga jual yang benar dari HPP yang akurat dibahas lengkap di cara menghitung harga jual.

Mengotomatiskannya dengan software

Menghitung HPP manual setiap bulan rawan salah, terutama saat retur dan potongan pembelian jumlahnya banyak. Sistem seperti Sparta menghitung HPP secara perpetual dari setiap transaksi pembelian dan penjualan yang diposting, dengan pilihan metode FIFO atau moving average, sehingga laporan laba rugi berjalan langsung menampilkan HPP dan laba kotor tanpa rekap manual di akhir bulan. Setiap jurnal HPP juga otomatis berimbang karena mengikuti aturan posting yang sama dengan transaksi lain, sesuatu yang bisa Anda pahami lebih dulu lewat konsep jurnal umum.

Pertanyaan yang sering diajukan