Sparta
Glosarium

Aktiva dan Pasiva Adalah: Arti dan Contoh di Bisnis Dagang

Aktiva dan pasiva adalah istilah lama untuk aset serta liabilitas dan ekuitas dalam neraca. Simak arti, fungsi, dan contoh nyata di perusahaan dagang.

Tim Sparta3 menit baca
Ilustrasi untuk artikel Aktiva dan Pasiva Adalah: Arti dan Contoh di Bisnis Dagang.

Disusun dengan bantuan AI berdasarkan panduan editorial Sparta, lalu melewati pemeriksaan struktur, keunikan, dan konsistensi otomatis. Lihat metodologi editorial.

Bagian dari panduan Istilah Akuntansi Lengkap: Kamus A-Z untuk Pemilik Usaha

Aktiva dan pasiva adalah istilah lama dalam akuntansi Indonesia untuk apa yang sekarang, mengikuti PSAK, disebut aset di satu sisi neraca serta liabilitas dan ekuitas di sisi lain. Aktiva adalah semua yang dimiliki dan bernilai bagi bisnis, sementara pasiva adalah sumber dana yang membiayai aktiva itu, baik dari hutang maupun modal pemilik.

Pengertian aktiva dan pasiva

Istilah aktiva dan pasiva berasal dari terjemahan Belanda 'activa' dan 'passiva' yang dulu umum dipakai di buku akuntansi dan sekolah bisnis Indonesia. Sekarang standar akuntansi (SAK EP maupun SAK EMKM) memakai istilah aset, liabilitas, dan ekuitas, tapi banyak pemilik toko dan staf lama masih menyebutnya aktiva pasiva karena itu istilah yang mereka pelajari pertama kali.

Aktiva dibagi dua: aktiva lancar seperti kas, piutang, dan persediaan yang bisa dicairkan dalam waktu kurang dari satu tahun, serta aktiva tetap seperti bangunan, kendaraan, dan mesin yang dipakai bertahun-tahun. Pasiva juga dibagi dua: pasiva yang berasal dari pihak luar (hutang atau liabilitas) dan pasiva yang berasal dari pemilik (modal atau ekuitas).

Fungsi dan kegunaan aktiva dan pasiva

Aktiva dan pasiva selalu berada di posisi seimbang dalam persamaan dasar akuntansi: Aktiva sama dengan Pasiva, atau Aset sama dengan Liabilitas ditambah Ekuitas. Prinsip ini yang membuat neraca (balance sheet) selalu 'balance', karena setiap aset yang dimiliki bisnis pasti berasal dari salah satu dari dua sumber itu, hutang atau modal.

Bagi pemilik usaha, memahami komposisi aktiva dan pasiva membantu menjawab pertanyaan penting: berapa besar bisnis ini dibiayai hutang dibanding modal sendiri, dan apakah aset lancar cukup untuk menutup kewajiban jangka pendek. Rasio semacam ini dipakai bank saat menilai kelayakan kredit dan oleh pemilik sendiri untuk menjaga bisnis tidak terlalu bergantung pada hutang.

Contoh aktiva dan pasiva di perusahaan dagang

Ambil contoh toko bahan bangunan dengan kondisi berikut per akhir bulan: kas Rp 50 juta, piutang usaha Rp 80 juta, persediaan barang Rp 200 juta, dan bangunan toko Rp 400 juta. Total aktiva toko ini adalah Rp 730 juta. Di sisi pasiva, toko punya hutang usaha ke supplier Rp 120 juta, hutang bank jangka panjang Rp 250 juta, dan modal pemilik Rp 360 juta.

Contoh neraca sederhana toko bahan bangunan
AktivaNilaiPasivaNilai
KasRp 50.000.000Hutang usahaRp 120.000.000
Piutang usahaRp 80.000.000Hutang bankRp 250.000.000
Persediaan barangRp 200.000.000Modal pemilikRp 360.000.000
Bangunan tokoRp 400.000.000
Total aktivaRp 730.000.000Total pasivaRp 730.000.000

Total aktiva Rp 730 juta sama persis dengan total pasiva Rp 730 juta (Rp 120 juta ditambah Rp 250 juta ditambah Rp 360 juta). Kalau kedua sisi ini tidak sama, berarti ada transaksi yang salah dicatat atau belum masuk ke pembukuan, dan itu tandanya perlu ditelusuri sebelum laporan keuangan dianggap final.

Kesalahan umum yang sering terjadi

Kesalahan paling sering adalah mencampur aset pribadi pemilik dengan aset usaha, misalnya kendaraan pribadi ikut dicatat sebagai aktiva tetap toko padahal tidak pernah dipakai untuk operasional bisnis. Ini membuat gambaran kesehatan keuangan usaha jadi kabur.

Kesalahan kedua adalah menganggap persediaan yang sudah rusak atau tidak laku tetap dicatat penuh sebagai aktiva, padahal nilainya sudah turun jauh dari harga beli. Kesalahan ketiga adalah lupa mencatat hutang jangka pendek seperti tagihan listrik atau gaji yang belum dibayar sebagai pasiva, sehingga posisi keuangan terlihat lebih sehat dari kenyataan.

Bagaimana software akuntansi mencatat aktiva dan pasiva

Software akuntansi modern seperti Sparta tidak lagi memakai istilah aktiva pasiva, tapi mengelompokkan setiap akun ke dalam aset, liabilitas, atau ekuitas sesuai bagan akun yang ditentukan di awal. Setiap transaksi, mulai dari faktur penjualan sampai pembayaran hutang, otomatis membentuk jurnal berpasangan yang menjaga neraca tetap seimbang tanpa pemilik harus menghitung manual sisi mana yang bertambah dan berkurang.

Contoh lain yang sering bikin bingung adalah uang muka dari pelanggan. Uang muka penjualan yang sudah diterima tapi barangnya belum dikirim tetap dicatat sebagai pasiva (kewajiban), bukan sebagai pendapatan, karena bisnis masih punya kewajiban mengirim barang atau mengembalikan uangnya. Baru setelah barang benar-benar dikirim, pos ini dipindahkan menjadi pendapatan penjualan.

Langkah berikutnya

Setelah memahami aktiva dan pasiva, lanjutkan dengan mempelajari apa itu ekuitas untuk memahami bagian modal secara lebih rinci, dan apa itu debit dan kredit untuk memahami cara transaksi ini dicatat sehari-hari. Kumpulan istilah akuntansi lainnya bisa Anda telusuri di glosarium istilah akuntansi lengkap.

FAQ seputar aktiva dan pasiva

Pertanyaan yang sering diajukan