Sparta
Pembelian

Penerimaan Barang Sebagian dari PO

Panduan lengkap mengelola penerimaan barang sebagian dari PO untuk UMKM dan distributor agar stok akurat, sisa pesanan terpantau, dan pencatatan pajak tetap patuh.

Tim Sparta5 menit baca

Disusun dengan bantuan AI berdasarkan panduan editorial Sparta, lalu melewati pemeriksaan struktur, keunikan, dan konsistensi otomatis. Lihat metodologi editorial.

Bagian dari panduan Aplikasi Purchase Order: Panduan Alur Pembelian yang Rapi

Penerimaan barang sebagian adalah proses mencatat masuknya persediaan ke gudang dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan kuantitas yang tertera pada pesanan pembelian awal. Kondisi ini sering dihadapi oleh pemilik bisnis distribusi saat pemasok tidak mampu memenuhi seluruh pesanan dalam satu kali pengiriman. Anda harus mencatat setiap tahap pengiriman secara presisi agar saldo utang dan posisi stok di gudang tidak mengalami selisih yang merugikan keuangan perusahaan.

Mengapa Penerimaan Barang Sebagian Terjadi pada Bisnis

Dalam operasional harian, jarang sekali pengadaan barang berjalan sempurna tanpa kendala logistik. Ada beberapa alasan utama mengapa Anda mungkin menerima barang secara bertahap. Pertama, keterbatasan stok di gudang pemasok. Supplier mungkin hanya memiliki separuh dari permintaan Anda dan memilih untuk mengirimkan apa yang tersedia terlebih dahulu agar operasional Anda tidak terhenti total.

Kedua, kendala kapasitas angkut. Jika Anda memesan barang dalam volume besar, satu truk mungkin tidak cukup untuk mengangkut semuanya sekaligus. Pengiriman kedua biasanya menyusul pada hari berikutnya. Ketiga, untuk barang impor, proses pemeriksaan bea cukai atau masalah kontainer bisa menyebabkan jadwal kedatangan barang terpisah. Jika Anda berurusan dengan pengiriman laut, memahami Demurrage dan Detention: Biaya Kontainer Terlambat sangat penting untuk mengantisipasi biaya tambahan saat barang datang terlambat atau bertahap.

Alur Pencatatan Penerimaan Parsial yang Benar

Pencatatan yang rapi dimulai dari dokumen Purchase Order (PO) yang sah. Anda dapat merujuk pada Aplikasi Purchase Order: Panduan Alur Pembelian yang Rapi untuk memahami dasar pembuatan dokumen pesanan yang kuat. Ketika barang sampai di gudang, tim gudang tidak boleh langsung mengubah status PO menjadi selesai jika jumlahnya belum sesuai.

Langkah pertama adalah melakukan verifikasi fisik terhadap Surat Jalan dari pengemudi. Bandingkan jumlah fisik yang diterima dengan jumlah di Surat Jalan dan PO. Setelah verifikasi, buatlah dokumen Bukti Penerimaan Barang (BPB) atau Goods Receipt Note (GRN) khusus untuk jumlah yang diterima hari itu. Di dalam sistem akuntansi atau ERP, dokumen BPB ini harus dihubungkan ke nomor PO asal. Hal ini memungkinkan sistem untuk menghitung sisa barang yang belum dikirim secara otomatis tanpa menghapus data pesanan asli.

Mengelola Sisa Pesanan dan Status PO

Setiap kali penerimaan barang sebagian dicatat, status PO akan berubah menjadi Parsial atau Terkirim Sebagian. Status ini sangat krusial bagi tim pembelian untuk memantau sisa komitmen pemasok. Jika sistem Anda tidak mendukung status parsial, tim admin sering kali terpaksa membuat PO baru untuk sisa barang, yang berisiko menyebabkan duplikasi pesanan atau kekacauan nomor referensi.

Anda juga harus memiliki kebijakan tegas mengenai sisa pesanan yang tidak kunjung datang. Jika setelah satu bulan sisa barang tidak dikirim dan pemasok menyatakan stok kosong permanen, PO tersebut harus ditutup secara manual (force close). Tanpa penutupan manual, laporan sisa pesanan Anda akan terus membengkak dan memberikan gambaran stok masa depan yang salah.

Sinkronisasi Faktur Supplier dan PPN 12 Persen

Tantangan terbesar dari penerimaan parsial adalah pencocokan faktur (invoice matching). Supplier mungkin mengirimkan satu faktur untuk setiap pengiriman, atau satu faktur gabungan di akhir periode. Sejak 1 Januari 2025, tarif PPN yang berlaku adalah 12 persen. Namun, untuk barang atau jasa non-mewah, sering kali digunakan mekanisme DPP nilai lain 11/12 sehingga beban efektifnya tetap setara 11 persen. Anda harus memastikan nilai pajak pada faktur supplier sesuai dengan perhitungan ini.

Melalui sistem Coretax yang kini menggantikan e-Faktur desktop, sinkronisasi data menjadi lebih ketat. Faktur pajak yang diterbitkan supplier harus sesuai dengan nilai barang yang benar-benar Anda terima. Jika Anda menerima barang secara bertahap, pastikan tanggal pengakuan utang di pembukuan Anda sinkron dengan tanggal penerimaan fisik barang, bukan sekadar mengikuti tanggal PO, untuk menjaga akurasi laporan arus kas.

Contoh Simulasi pada Bisnis Distribusi

Mari kita lihat contoh nyata pada sebuah distributor sembako yang memesan barang dari pabrik. Distributor memesan tiga jenis barang dalam satu PO nomor PO/2026/09/001.

Tabel Pelacakan Penerimaan Barang Bertahap
Nama ProdukJumlah Pesanan (PO)Penerimaan Tahap 1Penerimaan Tahap 2Sisa (Backorder)
Beras Premium 5kg500 Karung200 Karung300 Karung0
Minyak Goreng 2L1.000 Botol400 Botol0 Botol600 Botol
Gula Pasir 1kg200 Pack200 Pack0 Pack0

Pada pengiriman tahap pertama, hanya Gula Pasir yang terpenuhi 100 persen. Beras dan Minyak baru terkirim sebagian. Pada tahap kedua, Beras berhasil dipenuhi sepenuhnya, namun Minyak Goreng masih menyisakan 600 botol. Dalam kondisi ini, bagian keuangan hanya boleh mencatat utang sebesar nilai barang yang sudah masuk ke gudang. Jika barang datang tanpa dokumen yang jelas, Anda bisa mempelajari solusinya di Barang Datang Tanpa PO: Cara Menanganinya.

Risiko Kesalahan dalam Penerimaan Barang Bertahap

Kesalahan paling umum adalah mencatat penerimaan penuh padahal fisik barang belum lengkap. Hal ini sering terjadi karena admin ingin cepat menyelesaikan administrasi. Akibatnya, nilai stok di laporan terlihat besar, namun saat sales melakukan penjualan, barang fisiknya tidak ada. Pada sistem Sparta, fitur cegah stok negatif akan menolak transaksi penjualan tersebut karena secara sistem stok dianggap tersedia namun fisik kosong, yang memicu kekacauan saat audit.

Kesalahan lainnya adalah salah menginput harga satuan pada saat penerimaan kedua jika terjadi perubahan harga dari supplier. Jika Anda mengimpor barang secara parsial, perhitungan biaya masuk dan ongkos angkut juga menjadi lebih kompleks. Anda perlu memahami Landed Cost: Cara Menghitung Harga Pokok Barang Impor agar harga pokok penjualan (HPP) tetap akurat meskipun barang datang dalam beberapa termin pengiriman.

Optimasi dengan Teknologi ERP

Mengelola penerimaan sebagian secara manual menggunakan spreadsheet sangat berisiko bagi bisnis yang sedang berkembang. Sparta hadir sebagai solusi ERP web yang memudahkan pelacakan ini. Dengan Sparta, setiap kali Anda membuat dokumen penerimaan barang dari sebuah PO, sistem secara otomatis menghitung sisa kuantitas yang boleh diterima di masa mendatang. Anda tidak perlu menghitung manual berapa sisa botol minyak atau karung beras yang belum datang.

Fitur Tanya Sparta juga memungkinkan pemilik bisnis untuk bertanya langsung seperti, Berapa sisa barang yang belum dikirim dari PO nomor sekian? Agen AI kami akan membaca data real-time dan memberikan jawaban instan. Namun, perlu diingat bahwa Sparta saat ini belum memiliki integrasi marketplace atau aplikasi native, sehingga fokus utamanya adalah pada penguatan operasional internal dan akuntansi yang patuh pada aturan pajak Indonesia terbaru.

Langkah Praktis Mengelola Penerimaan Parsial

  1. Selalu terbitkan PO resmi sebelum melakukan pemesanan barang ke supplier.
  2. Wajibkan tim gudang menghitung fisik secara teliti dan mencocokkannya dengan Surat Jalan saat barang tiba.
  3. Input penerimaan barang di sistem segera setelah verifikasi fisik selesai, jangan menunda hingga akhir hari.
  4. Gunakan fitur pelacakan sisa PO untuk menagih kekurangan barang kepada pemasok secara berkala.
  5. Lakukan rekonsiliasi antara Bukti Penerimaan Barang dengan Faktur Pajak dari supplier untuk memastikan tarif PPN 12 persen sudah benar.
  6. Tutup PO yang sudah tidak mungkin dipenuhi oleh supplier agar tidak mengotori laporan perencanaan stok.

Pertanyaan yang sering diajukan