Barang dalam Perjalanan: Cara Mencatat Stok In Transit
Pelajari cara mencatat barang dalam perjalanan agar stok dan hutang usaha Anda tetap akurat, mulai dari pembelian supplier hingga transfer stok antar gudang.
Disusun dengan bantuan AI berdasarkan panduan editorial Sparta, lalu melewati pemeriksaan struktur, keunikan, dan konsistensi otomatis. Lihat metodologi editorial.
Bagian dari panduan Manajemen Stok Multi-Gudang: Cara Menghentikan Selisih Stok
Barang dalam perjalanan adalah persediaan yang telah dikirim oleh pemasok atau gudang asal namun belum diterima secara fisik di lokasi tujuan. Mencatat status ini dengan benar sangat krusial agar laporan keuangan mencerminkan nilai aset yang sesungguhnya dan menghindari selisih stok saat audit. Tanpa pencatatan in transit, Anda berisiko kehilangan jejak barang yang sedang dibawa oleh ekspedisi.
Apa Itu Barang dalam Perjalanan?
Barang dalam perjalanan adalah istilah akuntansi untuk stok yang secara hukum sudah menjadi milik perusahaan, tetapi masih dalam proses pengiriman. Dalam dunia distribusi, pemahaman mengenai kapan hak kepemilikan berpindah sangat menentukan keakuratan neraca perusahaan. Jika Anda membeli barang dari pemasok dengan syarat pengiriman tertentu, barang tersebut mungkin sudah harus dicatat sebagai aset Anda meskipun truk pengangkutnya masih berada di jalan tol.
Dampak barang dalam perjalanan sangat terasa pada akhir periode akuntansi. Jika Anda menutup buku pada tanggal 30 dan ada kiriman senilai seratus juta rupiah yang baru tiba tanggal 2 bulan berikutnya, laporan keuangan Anda bisa menyesatkan jika nilai tersebut tidak dimasukkan sebagai persediaan. Bagi pemilik bisnis, ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan masalah kepastian modal kerja yang sedang terikat di perjalanan.
Barang dalam Perjalanan dari Sisi Pembelian Supplier
Saat Anda melakukan pembelian, ada dua syarat penyerahan barang yang umum digunakan: FOB Shipping Point dan FOB Destination. Pada FOB Shipping Point, barang dalam perjalanan adalah milik pembeli segera setelah barang keluar dari gudang penjual. Sebaliknya, pada FOB Destination, barang baru menjadi milik Anda setelah kurir menyerahkannya di pintu gudang Anda.
Untuk barang dalam perjalanan untuk UMKM, seringkali pencatatan ini diabaikan karena dianggap rumit. Padahal, mencatat barang yang masih dikirim supplier membantu admin keuangan memproyeksikan arus kas untuk pelunasan hutang. Anda tidak ingin terkejut dengan tagihan jatuh tempo untuk barang yang bahkan belum Anda lihat fisiknya. Dengan mencatatnya sebagai stok in transit, Anda memiliki dasar hukum dan akuntansi yang kuat untuk mengakui hutang tersebut pada periode yang tepat.
Mengelola Barang dalam Perjalanan pada Transfer Antar Gudang
Dalam sistem manajemen stok multi gudang, pergerakan barang antar cabang sering kali menimbulkan selisih stok jika tidak dikelola dengan status in transit. Ketika gudang pusat mengirimkan 100 unit barang ke gudang cabang, stok di pusat akan berkurang seketika. Namun, stok di cabang tidak boleh bertambah sebelum barang benar-benar diterima dan diperiksa.
Prosedur Transfer Stok antar Gudang: Prosedur dan Pencatatannya yang benar melibatkan tiga tahap: pengiriman dari gudang asal, status dalam perjalanan, dan penerimaan di gudang tujuan. Selama masa tunggu ini, nilai barang harus tetap muncul dalam laporan konsolidasi sebagai stok in transit. Hal ini mencegah kepala gudang tujuan dituduh menghilangkan barang, sekaligus memastikan bagian penjualan tidak menjual barang yang fisiknya belum tersedia di rak.
Jurnal Akuntansi dan Dampak pada Laporan Keuangan
Secara akuntansi, pencatatan barang dalam perjalanan membutuhkan akun perantara. Akun ini berfungsi untuk menampung nilai persediaan sebelum dipindahkan ke akun persediaan utama. Sejak berlakunya sistem Coretax pada Januari 2025, integrasi antara catatan stok dan faktur pajak menjadi lebih ketat. Anda harus memastikan tanggal pengakuan barang sesuai dengan dokumen pendukung seperti surat jalan atau faktur pajak yang diterbitkan pemasok.
| Kondisi | Akun Debit | Akun Kredit |
|---|---|---|
| Barang dikirim supplier (FOB Shipping Point) | Persediaan dalam Perjalanan | Hutang Usaha / Hutang Belum Ditagih |
| Barang tiba di gudang pembeli | Persediaan Barang Dagang | Persediaan dalam Perjalanan |
| Kirim stok antar cabang | Stok In Transit (Internal) | Persediaan Gudang Asal |
| Cabang menerima stok | Persediaan Gudang Tujuan | Stok In Transit (Internal) |
Contoh barang dalam perjalanan yang sering ditemui adalah pembelian mesin dari luar kota. Jika mesin dikirim pada 28 September 2026 dan baru tiba 3 Oktober 2026, maka pada laporan neraca per 30 September, nilai mesin tersebut harus muncul di sisi aset sebagai barang dalam perjalanan. Jika tidak, nilai aset Anda akan tampak lebih kecil dari yang seharusnya, yang bisa memengaruhi rasio keuangan saat Anda mengajukan pinjaman ke bank.
Simulasi Angka: Perhitungan Nilai Stok In Transit
Mari kita lihat contoh spesifik pada bisnis distribusi suku cadang. Misalkan PT Distribusi Maju memesan 200 unit komponen mesin dari supplier dengan harga satuan Rp500.000. PPN yang berlaku adalah 12 persen. Karena barang ini termasuk kategori non-mewah, perusahaan menggunakan DPP nilai lain 11/12 sehingga beban efektif PPN tetap 11 persen.
- Nilai Barang: 200 unit x Rp500.000 = Rp100.000.000
- PPN Efektif (11%): Rp11.000.000
- Total Tagihan: Rp111.000.000
- Status: Barang dikirim ekspedisi tanggal 29 September, belum tiba saat tutup buku.
Pada laporan keuangan akhir September, admin harus mencatat Rp100.000.000 sebagai Persediaan dalam Perjalanan. Jika admin mengabaikan ini dan hanya menunggu barang tiba untuk mencatatnya, maka perusahaan akan kehilangan pengakuan aset sebesar seratus juta rupiah pada bulan tersebut. Hal ini juga berakibat pada ketidaksiapan dana untuk membayar PPN yang mungkin sudah jatuh tempo laporannya di sistem Coretax.
Kesalahan Fatal dalam Mencatat Stok In Transit
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah double counting atau pencatatan ganda. Ini terjadi ketika admin keuangan mencatat barang saat menerima faktur, sementara kepala gudang juga mencatatnya saat barang fisik tiba tanpa melakukan rekonsiliasi. Akibatnya, nilai stok di laporan keuangan menjadi dua kali lipat dari kenyataan.
Kesalahan lainnya adalah mengabaikan selisih antara jumlah yang dikirim dan jumlah yang diterima. Seringkali barang rusak di perjalanan atau hilang sebagian karena ulah pihak ketiga. Jika Anda langsung memindahkan seluruh nilai dari akun in transit ke akun persediaan utama tanpa pengecekan fisik, Anda akan mewariskan masalah selisih stok ke periode berikutnya. Selisih ini akan sangat sulit dilacak jika sudah melewati waktu berbulan-bulan.
Langkah Praktis Mengamankan Stok dalam Perjalanan
Untuk meminimalkan risiko, pastikan setiap pengiriman memiliki nomor pelacakan atau dokumen surat jalan yang unik. Tim gudang harus segera melakukan update status begitu barang diterima. Mengatur Layout Gudang: Cara Menata Gudang Kecil agar Efisien juga membantu proses bongkar muat barang yang baru tiba agar tidak bercampur dengan stok lama sebelum sempat diperiksa jumlah dan kualitasnya.
Anda juga bisa memanfaatkan teknologi untuk memantau pergerakan ini. Sparta sebagai ERP web menyediakan fitur untuk mencatat perpindahan stok dengan aturan posting yang ketat. Dengan fitur Tanya Sparta, Anda bisa bertanya langsung kepada agen AI mengenai berapa banyak stok yang saat ini masih dalam perjalanan antar gudang. Sparta secara default memiliki fitur cegah stok negatif untuk memastikan Anda tidak menjual barang yang sebenarnya belum benar-benar masuk ke gudang tujuan.
Meskipun Sparta saat ini belum memiliki integrasi langsung dengan marketplace atau aplikasi kurir pihak ketiga, kemampuan audit log di dalamnya memudahkan Anda melacak siapa yang mengirim dan siapa yang menerima barang. Ini memberikan akuntabilitas penuh pada setiap perpindahan barang dalam perjalanan di bisnis Anda. Segera tinjau kembali prosedur in transit Anda sebelum audit akhir tahun tiba.

