Sparta
Glosarium

SAK EMKM Adalah: Arti dan Contoh di Bisnis Dagang

SAK EMKM adalah standar akuntansi untuk usaha mikro, kecil, dan menengah dengan laporan minimal yang wajib. Simak arti, fungsi, dan contoh penerapannya.

Tim Sparta3 menit baca

Disusun dengan bantuan AI berdasarkan panduan editorial Sparta, lalu melewati pemeriksaan struktur, keunikan, dan konsistensi otomatis. Lihat metodologi editorial.

Bagian dari panduan Istilah Akuntansi Lengkap: Kamus A-Z untuk Pemilik Usaha

SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah) adalah standar akuntansi paling sederhana yang diterbitkan Ikatan Akuntan Indonesia untuk usaha mikro, kecil, dan menengah yang belum memenuhi syarat akuntabilitas publik. Standar ini dirancang agar pemilik usaha kecil bisa membuat laporan keuangan yang layak tanpa harus memahami standar akuntansi yang lebih rumit.

Pengertian SAK EMKM

SAK EMKM diterbitkan sebagai jawaban atas kebutuhan jutaan UMKM Indonesia yang ingin punya laporan keuangan formal, misalnya untuk mengajukan kredit bank, tapi kesulitan mengikuti standar akuntansi yang dirancang untuk perusahaan besar. Prinsip dasarnya memakai biaya historis, sehingga aset dicatat sebesar harga perolehan, bukan nilai wajar yang butuh penilaian rumit seperti di standar yang lebih tinggi. Pendekatan ini sengaja dibuat sederhana agar pemilik usaha kecil tanpa staf akuntansi khusus tetap bisa menyusun laporan yang bisa dipercaya pihak luar seperti bank atau calon investor.

Fungsi dan kegunaannya

  • Memberi pedoman laporan keuangan minimal yang cukup untuk kebutuhan pengajuan kredit dan pengambilan keputusan pemilik usaha.
  • Menyederhanakan pengakuan transaksi sehingga pemilik usaha tanpa latar belakang akuntansi tetap bisa mengikuti prinsipnya.
  • Menjadi jembatan bagi UMKM yang ingin naik kelas ke standar SAK EP sebelum benar-benar siap secara sumber daya.

SAK EMKM mewajibkan minimal tiga laporan: laporan posisi keuangan (neraca), laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan yang menjelaskan kebijakan akuntansi yang dipakai. Ini jauh lebih ringkas dibanding SAK EP yang juga mewajibkan laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas.

Contoh di perusahaan dagang

Sebuah toko kelontong dengan omzet Rp 200.000.000 per bulan menyusun laporan keuangan memakai SAK EMKM. Neracanya mencatat kas Rp 30.000.000, persediaan barang dagang Rp 90.000.000 (dicatat sebesar harga beli, sesuai prinsip biaya historis), dan peralatan toko Rp 25.000.000 sebesar harga beli dikurangi penyusutan. Di sisi pasiva, ada hutang usaha ke pemasok Rp 40.000.000 dan modal pemilik Rp 105.000.000, sehingga total aset Rp 145.000.000 sama dengan total hutang ditambah modal.

Laporan laba rugi bulan itu menunjukkan pendapatan penjualan Rp 200.000.000, HPP Rp 150.000.000, sehingga laba kotor Rp 50.000.000, dikurangi biaya operasional (sewa, listrik, gaji) Rp 32.000.000, menghasilkan laba bersih Rp 18.000.000. Semua ini dicatat tanpa perlu menghitung nilai wajar aset atau instrumen keuangan kompleks yang biasanya muncul di standar akuntansi untuk perusahaan besar.

Penyusutan aset tetap di SAK EMKM

Salah satu contoh penerapan yang sering ditanyakan adalah cara menyusutkan aset tetap. Untuk toko kelontong di atas, peralatan toko senilai Rp 25.000.000 dengan estimasi umur manfaat 5 tahun dan tanpa nilai residu, penyusutan garis lurusnya adalah Rp 25.000.000 dibagi 5, sama dengan Rp 5.000.000 per tahun, atau sekitar Rp 416.667 per bulan. SAK EMKM tidak mewajibkan metode penyusutan tertentu, tapi metode garis lurus paling umum dipakai karena kesederhanaannya cocok dengan semangat standar ini.

Kesalahan umum yang sering terjadi

  • Mencampur pencatatan aset pribadi pemilik dengan aset usaha, padahal SAK EMKM tetap mensyaratkan entitas usaha dipisah dari pemiliknya sebagai pihak yang berbeda.
  • Tidak membuat catatan atas laporan keuangan, padahal ini bagian wajib yang menjelaskan kebijakan akuntansi seperti metode penyusutan yang dipakai.
  • Menganggap SAK EMKM berarti tidak perlu pembukuan rapi sama sekali, padahal standar ini tetap mensyaratkan pencatatan transaksi yang konsisten dan bisa ditelusuri.

Kapan usaha harus naik kelas dari SAK EMKM

SAK EMKM cocok untuk usaha yang benar-benar berskala mikro sampai kecil dan belum punya kewajiban akuntabilitas publik, misalnya belum menghimpun dana dari masyarakat luas atau belum terdaftar di bursa. Begitu usaha bertumbuh, punya banyak pemegang saham, atau bank mulai meminta laporan yang lebih lengkap seperti laporan arus kas untuk pengajuan kredit besar, itu pertanda saatnya mempertimbangkan naik ke standar SAK EP yang lebih rinci.

Bagaimana software akuntansi mencatat SAK EMKM

Software akuntansi seperti Sparta menyediakan struktur akun standar yang bisa disesuaikan mengikuti prinsip SAK EMKM, sehingga UMKM bisa langsung mendapat neraca dan laba rugi tanpa menyusun dari nol. Saat bisnis bertumbuh dan mulai perlu laporan arus kas atau perubahan ekuitas, sistem yang sama juga bisa menyesuaikan ke standar yang lebih lengkap seperti SAK EP tanpa perlu berpindah sistem pencatatan dari awal.

Untuk memahami perbedaannya dengan standar lain, baca apa itu PSAK dan apa itu SAK ETAP, atau telusuri kumpulan lengkap di glosarium istilah akuntansi. Pelajari juga bagaimana jurnal otomatis mempermudah penyusunan laporan sesuai standar yang dipilih.

Pertanyaan yang sering diajukan