Sparta
Glosarium

Penyusutan: Pengertian, Rumus, dan Contoh Hitungan

Penyusutan adalah alokasi biaya aset tetap selama masa manfaatnya. Pelajari rumus garis lurus, saldo menurun, dan contoh hitung truk pengiriman.

Tim Sparta3 menit baca

Disusun dengan bantuan AI berdasarkan panduan editorial Sparta, lalu melewati pemeriksaan struktur, keunikan, dan konsistensi otomatis. Lihat metodologi editorial.

Bagian dari panduan Istilah Akuntansi Lengkap: Kamus A-Z untuk Pemilik Usaha

Penyusutan adalah alokasi biaya perolehan aset tetap, seperti kendaraan, mesin, atau bangunan, ke beban selama masa manfaat pemakaiannya, bukan dibebankan sekaligus saat dibeli. Penyusutan mencerminkan nilai aset yang berangsur berkurang karena pemakaian, sehingga laporan laba rugi setiap periode menanggung porsi biaya yang wajar.

Pengertian penyusutan

Saat perusahaan membeli truk pengiriman seharga Rp 400 juta, truk itu akan dipakai selama beberapa tahun, bukan habis dalam sebulan. Jika seluruh Rp 400 juta dibebankan sebagai beban di bulan pembelian, laba bulan itu akan anjlok drastis padahal truk masih dipakai bertahun-tahun ke depan. Penyusutan menyebar biaya itu secara proporsional ke setiap periode selama truk masih dipakai, sehingga laporan laba rugi lebih mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

Aset yang disusutkan hanya aset tetap berwujud dengan masa manfaat lebih dari satu tahun, seperti kendaraan, mesin, peralatan kantor, dan bangunan. Tanah tidak disusutkan karena nilainya dianggap tidak berkurang karena pemakaian.

Rumus dan cara menghitung

Dua metode penyusutan yang paling umum dipakai perusahaan dagang dan distribusi adalah garis lurus dan saldo menurun.

  • Metode garis lurus: (Harga perolehan minus nilai residu) dibagi umur manfaat. Beban penyusutan sama besar setiap tahun.
  • Metode saldo menurun: Nilai buku awal tahun dikali persentase tetap. Beban penyusutan lebih besar di tahun-tahun awal dan mengecil seiring waktu.

Contoh di perusahaan dagang

Sebuah distributor membeli truk pengiriman seharga Rp 400.000.000, dengan estimasi nilai jual kembali (nilai residu) Rp 40.000.000 setelah dipakai 8 tahun.

Dengan metode garis lurus: (Rp 400.000.000 minus Rp 40.000.000) dibagi 8 tahun = Rp 45.000.000 beban penyusutan per tahun, atau Rp 3.750.000 per bulan. Setiap bulan, jurnalnya adalah mendebit Beban Penyusutan Kendaraan Rp 3.750.000 dan mengkredit Akumulasi Penyusutan Kendaraan Rp 3.750.000.

Setelah 3 tahun pemakaian (36 bulan), akumulasi penyusutan mencapai Rp 3.750.000 x 36 = Rp 135.000.000, sehingga nilai buku truk menjadi Rp 400.000.000 dikurangi Rp 135.000.000 = Rp 265.000.000. Nilai buku inilah yang tercatat di neraca, bukan lagi harga beli awal.

Kesalahan umum yang sering terjadi

  • Membebankan seluruh harga beli aset sebagai beban di bulan pembelian, padahal seharusnya dicatat sebagai aset tetap lalu disusutkan bertahap.
  • Lupa menyesuaikan penyusutan saat aset dijual atau dihapus di tengah tahun, sehingga beban penyusutan tahun berjalan salah hitung.
  • Menyamakan umur manfaat semua aset padahal kendaraan, komputer, dan bangunan punya masa manfaat berbeda menurut kebijakan akuntansi perusahaan.
  • Tidak mencatat nilai residu, sehingga aset seolah bernilai nol di akhir masa manfaat padahal masih bisa dijual.

Bagaimana software akuntansi mencatat penyusutan

Software akuntansi yang punya modul aset tetap, termasuk Sparta, menyimpan data harga perolehan, nilai residu, umur manfaat, dan lokasi aset, lalu menghitung serta membukukan jurnal penyusutan otomatis setiap periode tanpa input manual berulang. Saat aset dijual atau dihapus, sistem juga bisa mencatat penghapusan aset beserta perhitungan untung atau rugi dari penjualannya.

Untuk memahami cara penyusutan masuk ke laporan laba rugi dan neraca secara keseluruhan, baca panduan cara membuat laporan keuangan. Istilah akuntansi terkait lainnya, seperti beban akrual dan amortisasi, dijelaskan lengkap di kamus istilah akuntansi lengkap, termasuk penjelasan apa itu beban akrual dan apa itu amortisasi. Bagaimana jurnal seperti ini terbentuk otomatis dari transaksi harian dibahas di jurnal otomatis akuntansi modern.

Penyusutan untuk keperluan pajak

Selain untuk pelaporan akuntansi, penyusutan juga dipakai untuk menghitung pajak penghasilan badan, dengan aturan tersendiri dari DJP mengenai kelompok harta berwujud dan tarif penyusutan fiskal yang berbeda dari kebijakan akuntansi internal perusahaan. Kelompok bangunan biasanya disusutkan dengan metode garis lurus, sedangkan kelompok non-bangunan seperti kendaraan dan peralatan bisa memilih garis lurus atau saldo menurun sesuai ketentuan yang berlaku. Karena aturan pajak bisa berubah, sebaiknya konsultasikan tarif dan kelompok penyusutan fiskal terbaru dengan konsultan pajak atau merujuk langsung ke peraturan DJP yang berlaku saat pelaporan.

Perbedaan antara penyusutan akuntansi dan penyusutan fiskal ini sering menimbulkan selisih sementara antara laba akuntansi dan laba kena pajak, yang lazim disebut beda temporer. Bagi bisnis dengan banyak aset tetap seperti armada kendaraan distribusi, mencatat dua perhitungan penyusutan secara manual sangat rawan salah, sehingga banyak perusahaan mengandalkan modul aset tetap di software akuntansi untuk menjaga konsistensi kedua perhitungan tersebut dari waktu ke waktu.

Pertanyaan yang sering diajukan