Sparta
Persediaan

Metode LIFO: Kenapa Tidak Boleh Dipakai di Indonesia

Metode lifo adalah sistem penilaian stok barang yang dilarang di Indonesia karena dapat memanipulasi laba dan pajak, pelajari pengertian serta alternatifnya di sini.

Tim Sparta5 menit baca

Disusun dengan bantuan AI berdasarkan panduan editorial Sparta, lalu melewati pemeriksaan struktur, keunikan, dan konsistensi otomatis. Lihat metodologi editorial.

Bagian dari panduan 15 Aplikasi Stok Barang Terbaik 2026 (Gratis & Berbayar)

Metode lifo adalah teknik penilaian persediaan di mana barang yang paling akhir masuk ke gudang dianggap sebagai barang yang pertama kali keluar atau dijual. Meskipun secara operasional mungkin terjadi pada barang yang ditumpuk, metode ini dilarang untuk pelaporan keuangan dan perpajakan di Indonesia. Memahami alasan pelarangan ini sangat penting bagi pemilik bisnis agar terhindar dari sanksi audit dan kesalahan perhitungan laba bersih.

Pengertian Metode LIFO (Last In First Out)

Pengertian metode lifo merujuk pada asumsi arus biaya persediaan di mana biaya dari barang yang terakhir dibeli adalah biaya pertama yang diakui sebagai Harga Pokok Penjualan (HPP). Dalam skema ini, persediaan yang tersisa di gudang pada akhir periode dinilai berdasarkan harga perolehan barang yang masuk lebih awal. Anda mungkin melihat praktek ini secara fisik di gudang material seperti pasir atau batu bara, di mana tumpukan terbaru berada di atas dan diambil lebih dulu. Namun, dalam akuntansi, aliran fisik barang tidak harus selalu sama dengan aliran biaya yang dilaporkan. Menggunakan aplikasi stok barang terbaik akan membantu Anda mengelola data ini tanpa harus pusing dengan perhitungan manual yang berisiko salah.

Contoh Perhitungan Metode LIFO dalam Angka

Untuk memahami bagaimana metode ini bekerja, mari kita lihat simulasi transaksi pada sebuah bisnis distribusi yang mengalami kenaikan harga beli (inflasi).

Tabel simulasi pembelian dan stok untuk perhitungan LIFO.
TanggalKeteranganJumlah UnitHarga SatuanTotal Biaya
1 JanPersediaan Awal100 unitRp10.000Rp1.000.000
10 JanPembelian200 unitRp12.000Rp2.400.000
15 JanPenjualan150 unit??
31 JanPersediaan Akhir150 unit??

Jika menggunakan metode LIFO, maka 150 unit yang terjual pada tanggal 15 Januari akan diambil dari pembelian terakhir (10 Januari) sebanyak 150 unit. Maka perhitungannya adalah: HPP = 150 unit x Rp12.000 = Rp1.800.000. Sisa persediaan di gudang adalah: (50 unit dari pembelian 10 Jan x Rp12.000) + (100 unit dari persediaan awal x Rp10.000) = Rp600.000 + Rp1.000.000 = Rp1.600.000. Terlihat bahwa biaya yang lebih mahal langsung dibebankan ke HPP, sehingga laba kotor terlihat lebih kecil.

Alasan Metode LIFO Dilarang oleh PSAK dan Pajak di Indonesia

Di Indonesia, standar akuntansi keuangan (PSAK 14) dan Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh Pasal 10 ayat 6) secara tegas melarang penggunaan LIFO. Alasan utamanya adalah potensi manipulasi laba. Saat terjadi inflasi, LIFO akan menghasilkan HPP yang tinggi karena menggunakan harga terbaru yang mahal. Hal ini menyebabkan laba bersih menjadi rendah secara artifisial, yang berujung pada setoran pajak penghasilan yang lebih kecil kepada negara. Selain itu, nilai persediaan di neraca menjadi tidak relevan karena menggunakan harga lama yang mungkin sudah jauh di bawah harga pasar saat ini. Sejak adopsi IFRS (International Financial Reporting Standards), Indonesia hanya mengakui metode FIFO dan Rata-rata (Average).

Fungsi Metode LIFO dan Kenapa Pernah Digunakan

Meskipun dilarang di Indonesia, fungsi metode lifo di beberapa negara seperti Amerika Serikat (di bawah US GAAP) masih diizinkan untuk tujuan tertentu. Manfaat utamanya adalah penghematan pajak di masa inflasi karena biaya barang yang dijual mencerminkan harga pasar terkini. Selain itu, LIFO membantu perusahaan mencocokkan pendapatan saat ini dengan biaya saat ini secara lebih akurat dalam laporan laba rugi. Namun, kerumitan dalam pelacakan lapisan harga (layers) dan ketidakakuratan nilai aset di neraca membuat banyak regulator internasional meninggalkannya.

Alternatif Pengganti LIFO untuk Bisnis Distribusi

Karena Anda tidak boleh menggunakan LIFO, Anda harus memilih antara dua metode legal lainnya. Pemilihan ini akan berdampak pada laporan keuangan dan kewajiban pajak Anda di masa depan. Anda bisa membaca perbandingan mendalamnya di artikel FIFO vs Average: Mana yang Cocok untuk Bisnis Anda.

  • Metode FIFO (First In First Out): Barang yang pertama masuk dianggap pertama keluar. Metode ini menghasilkan nilai persediaan di neraca yang lebih mendekati harga pasar saat ini.
  • Metode Rata-rata (Average): Menghitung biaya persediaan berdasarkan rata-rata tertimbang dari barang yang tersedia untuk dijual. Metode ini lebih stabil dan tidak terlalu dipengaruhi oleh fluktuasi harga yang ekstrem.

Contoh Penerapan di Bisnis Distribusi Barang Bangunan

Bayangkan Anda mengelola distribusi semen. Harga semen bisa berubah setiap minggu tergantung biaya logistik dan pabrik. Jika Anda menggunakan LIFO, Anda akan melaporkan biaya semen termahal sebagai beban, sementara semen lama yang murah tetap mengendap di nilai aset Anda. Di mata auditor pajak Indonesia, ini dianggap sebagai upaya pengecilan laba secara ilegal. Sebagai gantinya, Anda wajib menggunakan FIFO atau Average. Sparta sebagai ERP web Bahasa Indonesia membantu Anda menerapkan metode ini secara otomatis tanpa perlu menghitung manual setiap kali ada barang keluar. Sparta saat ini tersedia dalam akses awal dan mendukung pencatatan stok multi-gudang yang sesuai dengan regulasi PSAK.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Penilaian Stok

  1. Menggunakan metode yang berbeda untuk laporan internal dan laporan pajak. Ini akan menimbulkan kecurigaan saat audit pajak.
  2. Tidak konsisten dalam menerapkan metode. Jika sudah memilih FIFO, Anda tidak boleh mendadak pindah ke Average tanpa alasan yang kuat dan persetujuan otoritas terkait.
  3. Gagal mencatat retur pembelian atau penjualan dengan harga yang tepat, sehingga mengacaukan antrean stok dalam metode FIFO atau Average.
  4. Mengabaikan pembaruan aturan pajak seperti penerapan Coretax per 1 Januari 2025 yang menuntut akurasi data lebih tinggi.

Langkah Praktis Mengelola Stok Sesuai Aturan Indonesia

Untuk memastikan bisnis Anda aman secara hukum dan akuntansi, mulailah dengan menentukan satu metode penilaian persediaan yang paling mencerminkan model bisnis Anda. Setelah itu, pastikan sistem pencatatan Anda mendukung metode tersebut, baik menggunakan sistem persediaan perpetual vs periodik: beda dan jurnalnya. Pastikan setiap transaksi pembelian mencantumkan harga perolehan yang akurat termasuk biaya angkut agar perhitungan HPP tidak meleset. Terakhir, lakukan stock opname secara berkala untuk mencocokkan saldo fisik dengan saldo buku, dan gunakan alat bantu seperti Sparta untuk mengotomatisasi seluruh proses tersebut dari pembelian hingga laporan pajak PPN 11 persen.

Pertanyaan yang sering diajukan